Minggu, 28 Desember 2014

Review Remember When





Judul                          : Remember When
Penulis                       : Winna Efendi
Editor                         : Samira dan Gita Romadhona
Penerbit                      : Gagas Media
Jumlah Halaman        : 258 Halaman
Cetakan                       : April,  2011
ISBN                            :  978-979-780-487-9

 Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.


 --


Remember When adalah novel yang akan mengajak pembaca untuk mengenang kembali jungkir balik dan bahagianya masa putih abu- abu.

 Kisah tentang empat sahabat saat masa SMA. Dan, tentang kata hati yang tak akan pernah bisa disangkal.
 Adrian yang tampan dan jago basket berjuang dan akhirnya berhasil mendapatkan hati Gia yang menjadi bunga sekolah. Sementara itu sahabatnya, Moses sang ketua OSIS  dan tentunya pintar berhasil merebut hati Freya- sahabat Gia, sang kutu buku. 

 Adrian dan Gia menjadi pasangan paling romantis di Sekolah, sangat jauh berbeda dengan Moses dan Freya yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan belajar bersama. Bagi Moses, pacaran adalah sesuatu hal yang tak perlu diumbar, namun melihat romantisnya Adrian dan  Gia, hati kecil Freya berbisik kecil “Pernah nggak sih, lo berharap punya cinta yang lain? Yang meledak- ledak, yang bikin kaki lo lemes, yang bikin jantung nggak keruan..”. Freya terdiam.

 Semua berjalan seolah sempurna, namun tentunya sebuah kisah cinta tak akan pernah berjalan mulus. Perubahan- perubahan terjadi, kebohongan, dilema, dan rasa cinta yang hilang masuk ke dalam lingkaran persahabatan mereka.

 Kematian mama Adrian membuat segalanya buyar. Freya yang terpaksa harus menemani di Rumah sakit, membuat kisah tersendiri yang akhirnya menjadi akar dari sebuah luka yang menanti bagi persahabatan mereka. 

 Adrian yang kehilangan mamanya, dan Freya yang kehilangan papanya. Keduanya merasakan kehilangan yang sama, merasakan luka yang tak akan pernah kering. Rasa kehilangan itulah yang akhirnya membuat Adrian dan Freya saling jatuh cinta.

 Keduanya merasakan dilema yang luar biasa. Kebohongan terus diucapkan Adrian kepada Gia, bak permen kapas semua terasa manis, namun Adrian tak sadar bahwa permen itu tak akan pernah utuh, pasti akan habis. Begitupula dengan kebohongannya, yang akhirnya harus diketahui Gia.

 Persahabatan yang hancur, dan hati yang patah.

 Masa putih abu- abu berubah menjadi suram, Adrian bersikeras untuk mendapatkan Freya, namun Moses juga bersikeras tak akan melepaskan Freya. Freya berada dalam kegamangan, disatu sisi ia mencintai Adrian namun disisi lainnya ia tak ingin menyakiti Moses dan Gia.

 Karena pada akhirnya, hati hanya mampu ditempati oleh satu orang saja. Siapakah yang akan dipilih Freya, bertahan dengan Moses agar persahabatannya dengan Gia terjaga ataukah ia memilih untuk memperjuangkan hatinya....untuk memilih Adrian?

 Siapkanlah diri kalian untuk menikmati kisah cinta yang begitu menguras emosi...
 
---

 Winna Efendi adalah satu penulis terbaik di Indonesia. Wanita kelahiran 1986 ini telah menulis beberapa buku seperti: Ai, Refrain, Glam Girls: Unbelievable, Tomodachi, Melbourne, Draft1, Truth or Dare, Remember When, dan yang terbaru yang akan rilis adalah Happily Ever After. Dan, keseluruhan bukunya telah menjadi best-seller, dan bahkan 2 novelnya telah diangkat ke layar lebar, yaitu: Refrain dan Remember When.


 Sebagai pembuka review, sayaakan mengacungkan jempol atas sinopsis yang sangat puitis dan sangat memikat yang ada dibelakang buku.

 Dengan desain sampul yang terkesan simpel , cenderung berwarna kalem serta sinopsis yang ada di belakang buku, saya mengira bahwa ini adalah dewasa, novel tentang Tuan dan Nona, namun ternyata itu salah... ini adalah novel yang berkisah tentang Siswa dan Siswi SMA.

 Awal membaca novel ini, saya sebenarnya tidak tertarik, mengingat cerita yang dibawakannya sudah sangat klise, tentang sahabat yang menjadi cinta. Cerita seperti ini sudah sangat sering dijumpai pada novel- novel atau tayangan televisi, idenya sudah tidak segar lagi. Namun, Winna Efendi berhasil memikat kami. Winna sangat apik memainkan narasi- narasi novel ini, diksi yang indah bertebaran dimana- mana. Akhirnya tanpa sadar kami sendiri hanyut dalam novel ini, dan berpikir..

 “Bahwa ternyata, tak peduli se-klise apapun ceritanya, penulis yang hebat adalah penulis yang mampu meramu ide klise itu menjadi sebuah cerita yang membuat pembaca tak sadar bahwa mereka telah sampai dipenghujung cerita.”

 Saya akan memberikan nilai plus pada pengambilan sudut pandang yang Winna sajikan. Winna berhasil menyajikan sebuah cerita dari sudut pandang Adrian, Freya, Moses, Gia, dan Erik. Sebenarnya, sudah banyak novel yang menggunakan sudut pandang seperti ini, namun sejauh ini hanya sebagian kecil yang berhasil meramu sudut pandang itu menjadi sesuatu yang tidak membuat pembaca kebingungan dan Winna termasuk salah satunya. Yang mendasari saya mengatakan itu adalah, Winna tidak sekedar mengubah sudut pandang tapi juga gaya penceritaannya.  

Winna dengan halus merangkai gaya penceritaannya, dari Adrian yang memakai gue-elo, Freya yang kalem dan tenang, Gia yang meledak- meledak, dan serius saat menjadi Moses. 

 Winna mampu merapatkan jarak antara penulis dan pembaca. Secara tak langsung gaya penceritaannya mampu memperlihatkan emosi dan sisi karakter kepada pembaca, hingga membuat pembaca merasa akrab dengan tokoh dan bahkan diakhir cerita kami merasa aneh. Tak ada tokoh yang mampu membuat saya memberikan bahwa dia seorang yang jahat karena berselingkuh ataukah karena hal- hal lain, semua tokoh terasa menjadi antagonis, padahal jika ingin melihat lebih dalam, tentunya yang akan menjadi tokoh Protagonis adalah Adrian dan Freya. Namun, Winna berhasil membuat pembaca merasakan emosi yang ada di setiap tokoh. Pembaca bisa ikut merasakan bagaimana kegamangan Adrian, merasakan frustasinya Gia, Kecewanya Moses, dan ikut merasa sesak saat Freya harus menahan rasa cintanya kepada Adrian demi menjaga persahabatan itu.

 Winna bercerita dengan sangat baik, mampu mendeskripsikan karakter- karakter-karakternya dengan sangat hidup. Adrian sang bintang basket, tampan yang paling banyak mendapat teriakan murid- murid perempuan yang datang menonton basket untuk cuci mata. Freya perempuan bertubuh tinggi, yang sehari-harinya menenteng buku dan terkesan pendiam. Gia perempuan berkulit kecokelatan dengan rambut ikal yang tergerai, cewek yang ceria dan supel. Sementara Moses, sang ketua OSIS, mempunyai nilai yang hampir sempurna, dan tipikal orang yang serius.

 Namun, Winna juga tidak “seenaknya” menciptakan sebuah karakter. Winna menyajikan karakter- karakter yang walaupun sempurna secara fisik namun memiliki sifat- sifat yang membuat “kesempurnaan fisik” itu harus “menurun”. Tidak seperti kebanyakan penulis yang membuat tokohnya sempurna secara fisik, dan memberikannya sifat bak malaikat sehingga membuat tokoh itu terkesan sangat jauh dari kenyataan.

 Diluar dari itu sebuah karya tentu tak pernah ada yang sempurna. 

 Ada beberapa kesalahan penulis kata yang lupa dibetulkan, namun untungnya hal itu tak terlalu menganggu.

 Walaupun saya suka dengan penyampaian narasi dan dialognya, kami merasa sedikit janggal dengan dialog- dialog yang terasa sangat dewasa dan hal itu sedikit membanting mengingat karakter- karakternya masih duduk dibangku sekolah menengah atas.

  Overall, Remember When adalah sebuah paket istimewa. Winna mampu menyajikan sebuah ide yang basi namun membuat candu, membawa pembaca ke pemikiran baru dalam sebuah konflik.
 Banyak sekali kutipan- kutipan menarik dan bijak yang menghiasi novel ini. Remember When mampu mengaduk- aduk emosi pembaca, dimenit yang lalu kita akan diajak merasakan romansa yang sangat indah, lalu kita akan diajak jungkir balik bersama dengan getirnya jatuh cinta. Namun, seperti kutipan dalam novel ini:

 “Hidup juga kayak cuaca. Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan.”

 “Nggak ada orang yang seratus persen bahagia, nggak ada juga orang yang seratus persen sedih. Hidup itu kan penuh emosi, makanya dalam satu periode waktu kita bisa ngerasain berbagai emosi berbaur jadi satu. Karena itu, kita jadi seimbang”

 Rating: 5/5




Sabtu, 27 Desember 2014

Review Moon in The Spring









Judul                    : Moon in The Spring
Pengarang            : Hyun Go Wun
Penerbit               : Haru
Penerjemah         :  Sita Hapsari
Jumlah Halaman: 405 Halaman
Cetakan                  : September, 2014
ISBN                       
978-602-7742-39-0

Di malam bulan purnama, seorang dewi terjebak bersama seorang pria berhati dingin dan licik di permukaan bumi.

Dewi Langit, Pria Bumi, lalu Malaikat Kematian….

Apakah wanita itu benar-benar tunanganku?

Pria itu bernama Kang Min-Hyuk, pria berhati dingin dan licik. Ia tidak tampak terkejut ketika tunangannya bangkit dari kematian. Ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada wanita itu. Akan tetapi sesudah kejadian itu, wanita itu terlihat seperti wanita lain. Dan wanita itu tidak pernah bisa hilang dari pikirannya.

Apakah pria itu akan berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya?

Ji-Wan melanggar peraturan langit dan turun ke bumi untuk menggantikan posisi seorang wanita yang meninggal. Di sana, ia bertemu dengan Min-Hyuk, tunangan wanita yang ia gantikan. Sejak bertemu dengannya, Ji-Wan tahu bahwa pria itu adalah orang yang tidak mudah untuk dihadapi. Walaupun begitu, Ji-Wan berniat untuk bisa terus bertahan di dunia manusia… meski ia merasa lelah.

--

 Moon In The Spring adalah salah satu novel terjemahan dari penerbit haru yang ditulis oleh Hyun Go Wun yang sebelumnya juga menulis 4 Ways to Get a Wife dan Always With Me.

 Novel ini bercerita tentang Dal Hee seorang “hampir dewi” =)) yang harus menjalani reinkarnasi sebanyak tujuh kali agar mampu menjadi dewi sepenuhnya.

Dal Hee memiliki  sikap yang sangat jauh dari sikap sang kakak; Hae Song yang menjadi suri tauladan karena patuh terhadap peraturan- peraturan dewa langit. Sikap Dal Hee yang ceroboh dan sering membuat onar, membuatnya beberapa kali harus menunda keinginannya menjadi dewi . Namun, diluar itu semua, Dal Hee adalah sosok yang ringan tangan, tetapi karena sikap ringannya itulah ia sepertinya harus kembali menunda gelar dewinya...

 Sebelum meninggal Jii Wan sempat menggumamkan sebuah permintaan..

 “Dewi, tolong kabulkan satu permintaanku. Aku mohon Dewi untuk memanusiakan orang itu.” Wanita itu mengatakannya sambil menatap Dal- Hee. Sekarang ia sudah siap untuk pergi.


 “Tadi kau bilang kalau kau tidak menyukainya?”


 “Memang. Aku sangat membencinya.” Ji-Wan menggeleng jawabannya terdengar tegas sekali.

 “Lalu kenapa kau memintaku untuk mengabulkan permintaanmu itu?”


 “Karena jika dia sudah menjadi manusia yang baik, dia akan bisa mencintai orang lain. Jadi nantinya dia akan bisa merasakan kesakitan dan penderitaan yang kurasakan. Aku ingin dia tahu.”

 Setelah mengucap permintaan itu, Ji-Wan meninggal..

 Tak ada raut kekecewaan di ruangan itu, terlebih lagi tunangannya.. Kang Min- Hyuk. Diwajahnya tak ada raut kesedihan, benar- benar tak merasakan kehilangan. Melihat hal itu tentu saja, membuat emosi Dal Hee naik..

 Jadilah, ia melakukan perbuatan yang membuat gelar dewinya terancam tertunda lagi...

 Dal Hee masuk ke dalam tubuh Ji Wan, dan membuat Ji Wan nampak sehat seperti sedia kala, padahal sebelumnya telah dinyatakan meninggal dunia. Melihat hal itu Min Hyuk bingung, namun ia tak acuh lagi, dia tak mau masuk ke dalam pusaran kehidupan Ji Wan, kalau bukan karena merger perusahaan ia tak pernah mau berurusan dengan Ji Wan.

 Namun, setelah “kejadian itu” Ji Wan berubah drastis...

 Ji Wan berubah menjadi wanita yang tegas, dan berani.. ia benar- benar berubah..

Kang Min Hyuk juga baru menyadari bahwa Ji Wan ternyata adalah sosok yang cantik.
Disinilah, perjalanan Dal Hee sebagai Ji Wan dimulai..

Mampukah Dal Hee memanusiakan Kang Min Hyuk seperti keinginan terakhir Ji Wan?
--

 Membaca novel yang cukup tebal menjadi sebuah tantangan tersendiri buat saya, jika novel itu sudah membuat saya bosan di awal saya akan menaruhnya dan menggantinya menjadi novel lain untuk dibaca.
 Namun, hal itu saya tidak dapatkan pada Moon In The Spring, dari awal saya sudah tertarik dengan sinopsisnya yang mengisahkan kehidupan seorang dewi dan manusia, ditambah lagi dengan prolognya yang langsung saja membuat saya jatuh cinta.. keren!







Ini dia penampakannya.

 Novel yang terdiri dari 398 halaman ini, menjadi novel yang tidak membosankan, Hyun Go Wo berhasil meramu ceritanya dengan baik, membuat saya penasaran..

 “Ini apa lagi nih yang bakal Dal Hee perbuat?” =))

 Tokoh yang paling saya senangi tentunya adalah.. Dal Hee yang masuk ke dalam tubuh Ji Wan, berhasil membuat Ji Wan menjadi wanita yang “luar biasa”, senang rasanya melihat Kang Min Hyuk seolah tak bisa berkata- kata melihat semua kelakuan Ji Wan yang baru =))


 “Dia sudah menikah?”


 “Sepertinya belum.”

..

 “Kalau begitu aku tidak akan mengizinkannya.”


Dengan tegas, Min-Hyuk memberikan jawabannya dan langsung memasukkan nama pria itu ke dalam kelompok ‘orang luar’. Min- Hyuk tidak yakin bisa memercayakan Ji-Wan dibawah pengawasan pria itu.
 

 “Kenapa memangnya?”


 “Mana mungkin aku membiarkan orang lain menjagamu?”


 Tapi, ada satu hal yang cukup disayangkan.. sang Malaikat Kematian porsinya dikit banget.. padahal Malaikat Kematian ini sedari awal sudah sangat menarik perhatian, terlebih lagi saat ia juga menjadi seorang pria bernama Lee I- Gu. Dan kisah Lee I-Gu dan Mi Ra juga sangat menarik, tapi sayang kurang dieksplor.

 Walaupun novel ini termasuk ringan, namun tidak membuat novel ini kehilangan esensinya. Selain konflik- konflik utama, penulis juga menghadirkan Lee Seok-Wan (mantan teman baik Kang Min Hyuk)  yang ternyata tertarik dengan Ji Wan, melihat hal itu- Kang Min Hyuk yang semula tidak peduli dengan kehidupan Ji Wan, langsung saja memaksa Ji Wan menjauh dari Seok- Wan. Namun, dibalik sikapnya itu, ternyata ia khawatir Seok- Wan melakukan hal yang sama seperti dahulu....

 “Aku serius. Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu pria berengsek seperti dia.”


 Novel ini mengajarkan banyak hal, terutama tentang Kang Min Hyuk..

Dibalik  sikapnya yang dingin dan licik.. ia ternyata menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang kelam sehingga membuatnya seperti saat ini..

“Pada dasarnya dia bukan orang jahat.”


“Iya. Karena tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia begitu buruk.”


 Wajah Ji-Wan tampak lebih lunak. Komisaris Park terdiam sebentar dan kembali menatap Ji-Wan dalam- dalam.


 “Dia mengenal keburukan manusia terlalu dini. Sayang sekali.....”

 Dan untuk penerbit haru, lagi- lagi patut diacungkan jempol, penerbit haru mampu menerjemahkan novel ini dengan sangat halus dan lembut, sehingga sangat mudah untuk dibaca.

 Covernya yang “eye catching” juga menambah nilai plus dari novel ini..

Kutipan yang menarik:

1. Semua itu ciptaan Tuhan. Manusia adalah mahluk paling mulia yang pernah diciptakan, jadi tidak mungkin Tuhan menciptakan siapa pun dalam keadaan lemah.
2. Ketika mengkhianati orang yang mencintaimu, kau juga harus tahu kalau kau meninggalkan luka yang sangat dalam.
3. Banyak manusia yang sebenarnya sudah ‘mati’ karena di dalam hati mereka sudah tidak tersisa kebaikan sama sekali.

Dan masih banyak lagi tentunya =))

Makanya baca Moon In The Spring, yuk =))

Overall, 4/5