Selasa, 14 Oktober 2014

Review Bunga di atas Batu










Judul                           : Bunga di atas Batu
Penulis                        : Aesna
Percancang Sampul    : Fahmi Fauzi
Penerbit                      : Moka Media
Cetakan                      : 2014
Jumlah halaman        : 127 halaman
ISBN                           : 979-795-842-6


Iris yang baik,


Setelah kupertimbangkan masak-masak, beginilah akhirnya cara yang kupilih. Bukan supaya diriku terelak dari duka perpisahan. Ketahuilah, pada huruf-huruf terakhir setiap kata yang kutulis, kesedihan menderaku tanpa ampun bagaikan pesuruh Zeus mendera Prometeus yang malang (bukankah kamu menyukai dongeng-dongeng Yunani?). Kutahankan rasa sakit itu demi hal-hal yang mungkin bisa kujelaskan lebih baik secara tertulis ketimbang dibicarakan langsung. Jika terasa tidak adil, maafkanlah.

Manakala surat ini sampai padamu, telah jauh aku meninggalkan rumah dan “tempat rahasia kita.” Tapi yakinlah, jarak di antara dua manusia bukan melulu perkara terlihat atau tidaknya sosok, terdengar atau tidaknya suara, terasa atau tidaknya sentuhan, terhirup atau tidaknya aroma masing-masing. Selama ini, misalnya, dengan bertemu setiap hari, seberapa dekat sebenarnya hati kita? Seberapa banyak kau mengerti perasaanku atas dirimu dan sebaliknya?


 Ini adalah kisah tentang Iris dan Bara, dua anak yang telah menjalin persahabatan 12 tahun lamanya, dua anak yang tidak memperoleh kasih sayang yang cukup dari orangtua masing- masing yang akhirnya membuat mereka terikat. Seiring waktu berjalan, ada sesuatu yang akhirnya mengendap di dada Bara, sesuatu hal yang ia sadari bahwa itu sebuah perasaan ingin memiliki Iris lebih dari sekedar sahabat, namun kecemasan yang ia pendam juga cukup besar, hingga akhirnya membuat Bara lebih memilih untuk memendamnya.
 Hingga akhirnya, muncul Hilman dalam kehidupan Iris, salah satu murid paling populer di Sekolah, bukan sekedar wajahnya yang tampan, namun juga ia memiliki prestasi akademis yang cukup baik. Namun, bukan itu yang membuat Bara khawatir..... Bara khawatir tentang reputasi Hilman yang nantinya juga akan membuat Iris menangis.

_

 Ritual saya setiap membaca buku adalah membaca baik- baik sinopsis yang ada di belakang buku. Dan, membaca buku ini, saya langsung dibuat jatuh cinta oleh cara bercerita penulis, diksinya apik seolah penulis sudah sangat ahli dalam dunia sastra, tapi perlu kalian ketahui bahwa penulis baru saja lulus dari bangku SMA!

 Novel bergenre seperti ini sudah bukan barang baru lagi, kisah cinta sahabat jadi cinta. So, buat kalian yang pernah atau lagi terjebak friendzone, sepertinya cocok banget buat baca novel ini. Karena dalam novel ini penulis mengajak kita untuk menyelami dilema- dilema yang harus dirasakan Bara.

 Membuka bab pertama, kita langsung disuguhi oleh kutipan keren dari tokoh ternama. Hal inilah yang akhirnya membuat saya memiliki ekspektasi lebih pada novel ini, novel yang terkesan mahal, dan berkelas.

 Sayangnya novel ini terlalu tipis, hanya sekitar 127 halaman, namun memiliki beberapa konflik yang sepertinya kurang dieksplorasi dengan baik, ada beberapa bagian yang cenderung dipaksakan untuk selesai dan lanjut ke bab selanjutnya. Kedepannya, penulis sebaiknya lebih mengeksplor lagi beberapa bagian yang sebenarnya sudah sangat baik. 

 Diluar itu semua, pengetahuan penulis tentang dunia sastra sangat patut diacungi jempol, saya iri maksimal..................

 Surat Bara kepada Iris cukup membuat saya bengong sendiri, mencermati setiap kata- katanya, hingga akhirnya saya bergumam “keren banget ini....”

 Untuk bagian ending, saya merasa itu belum benar- benar selesai, terkesan menggantung, saya harap penulis mau menulis cerita lanjutan tentang kisah hubungan Bara, Iris yang sepertinya akan lebih seru lagi ketika melihat mereka berdua menginjak fase dewasa.

Kutipan yang menarik:

1. Tapi hidup selalu kayak gini, Ris. Pas kita ada di masa lalu, kita nggak sabar pengen lihat masa depan. Eh, pas udah di masa depan, kita bakal rindu sama masa lalu kita

2. Cinta harus tegas dan jujur.
3.Cinta itu sabar dan bertanggung jawab. Jangan coba- coba nyatain cinta kalo masih takut nggak bisa jaga perasaan dan jaga komitmen.
4. Namanya juga hidup, kalo terus sama berarti ndak akan ada perubahan dan pelajaran yang bakal kita dapat
5. Bagaimanapun, pesan moral tidak cocok untuk hati yang berduka

Overall: 3,5/5

Sabtu, 11 Oktober 2014

Selamat Ulang Tahun




                                                     pictsource: mike-jack.deviantart.com



 TENG.. 


 Kata itu berulang hingga dua belas kali, hari ini sudah habis, dan memulai hari baru. Benda tak bernyawa yang sedari tadi kugenggam terus bergetar, semua pesan singkat berisikan selamat ulang tahun. Aku berkali- kali mengamini, beberapa ucapan seperti semoga panjang umur, sukses, sehat selalu.

 Sudah dua tahun kamulah satu- satunya yang membuatku percaya bahwa saat berulang tahun, menunggu jarum jam tepat menunjuk 00.00 adalah sesuatu yang sangat wajib disakralkan. Dan itu, membuatku dengan bodoh sekaligus suka melakukannya, sambil ditemani oleh ucapan selamat ulangtahun darimu.
 
 Tapi, sekarang sudah 15 menit berjalan, berlalu. Kutelurusi kembali pesan- pesan singkat disana, kukira penglihatanku yang salah, namun ternyata, namamu memang belum ada disana. 

 Pikiranku bercabang, antara mengingat kembali tahun sebelumnya serta mengira- ngira mengapa namamu belum ada disalah satu pengirim selamat ulangtahun untukku.

 Tahun lalu, tepat pukul 00.00 dipenghujung bulan Oktober, kaulah yang pertama menggetarkan ponselku, memberikan selamat ulangtahun yang akhirnya menjadi kado terindahku.

 Namun, saat ini, sudah pukul 00.20 menit, dan namamu belum ada disana. Aku mengira malam mungkin sedang membelaimu, atau suamimu yang belum mau melepaskan pelukannya darimu.

 Sejujurnya aku berharap matahari datang memakan malam, malam benar- benar memberikanku kado yang begitu buruk di hari ulang tahunku tahun ini. Tapi, apalah yang bisa diperbuat, waktu memang begitu sadis, ia akan menjalankan jarumnya begitu cepat, bahkan seolah berlari saat kau tengah tertawa, bahagia, atau mungkin diam disisi orang yang kau cintai. Namun waktu akan membuatmu meronta karena ia terlalu lambat saat kau tengah dililit nelangsa.

 Kutelurusi kembali satu persatu nama disana, namun yang ada hanyalah desahan kecewa yang keluar dari mulutku. 

 Sudah pukul dua pagi, kedua mata ini belum mau terpejam, masalah yang kuterbangkan bersama kepulan- kepulan asap rokok, ternyata tidak cukup untuk memberikanku paket lega malam ini. Otot- ototku menegang, perasaan bingung, kesal, marah, berbaur menjadi satu. 

 “Belum tidur, Mas? Oh iya, Selamat ulangtahun ya. Semoga bisa jadi ayah yang baik buat Reno ”

Sosok perempuan disampingku yang sedari tadi tertidur, bangun dan mengecup pipi kananku.

Namun, bukan itu yang kutunggu..

Bisakah waktu terulang? aku mohon ada selamat ulang tahun yang lupa seseorang ucapkan padaku.

Jumat, 03 Oktober 2014

Review Sweet Winter






Judul                  : Sweet Winter
Penulis               : Kezia Evi Wiadji
Desainer Kover  : SAS Studio
Penata isi            : Phiy
Penerbit              : Grasindo
Cetakan              : 2014
Jumlah halaman : 207 halaman
ISBN                    : 978-602-251-651-4


Matthew
Aku berharap, takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku
Karin
Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu jika akhirnya harus kembali berpisah?!
..
Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai.
Tetapi takdir mempermainkan mereka
Layaknya dua layang- layang yang meliuk- liuk di langit.
Akankah merka bersatu,
Jika wedding song telah mengalun lembut
dan
salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar
untuk mengucapkan sumpah setianya?

 Semua berawal dari kepindahan Matthew dan keluarganya, rumah barunya tepat berada di depan rumah Karin. Matthew dan Karin, menjadi akrab karena ternyata mereka juga berada di Kelas dan Sekolah yang sama. Berangkat ke Sekolah bersama, bermain bersama, hingga akhirnya membuat mereka seolah tak bersekat; sahabat karib.
 Hingga akhirnya, datang Silvia ke dalam lingkaran persahabatan mereka, dan membuat Karin ketar- ketir, dan membuatnya hatinya bertanya yang ia rasakan adalah jatuh cinta atau rasa apa. Karin mengambil langkah untuk mengerjai Silvia, tanpa disangka hal itu malah membuat hubungan Matthew dan Karin merenggang.
 Bak pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula dada Karin bertambah sesak karena kejadian yang membuatnya harus berpisah dengan Matthew. Tahun demi tahun berlalu, Karin melakukan perjalanan ke Korea Selatan, namun tepat saat ia berada di Bandara Incheon Seoul, seseorang memanggilnya...
 Oh, Tuhan....
Tubuh Karin seketika membeku dan wajahnya memucat.


__

Membaca novel ini, saya sempat berpikiran Duh.. cerita tentang sahabat yang jadi cinta lagi nih. Mainstream.

Namun, saya tetap membacanya karena saya sendiri suka dengan cara bertutur dari Kezia Evi Wiadji dibeberapa novelnya seperti I Am Yours, You Are Invited, dan Kimmy Puzzle.

 Novel bergenre seperti ini, bukan lagi hal baru, sudah banyak sekali yang menawarkan cerita serupa. Menawarkan dilema yang dirasakan dua orang sahabat yang saling jatuh cinta. Namun, menurut saya penulis yang hebat adalah penulis yang mampu membuat alur cerita menjadi menyenangkan dan membuat pembaca lupa dan diakhir novel pembaca mampu berpikir bahwa eh, padahal kisahnya mainstream, tapi kok bisa keren ya

 Nah, hal itulah yang saya temukan pada novel ini.
 Kezia Evi mampu menghadirkan kisah masa kecil Karin dan Matthew, menyelami persahabatan mereka, pertengkaran- pertengkaran mereka, dan merasakan hangat dari persahabatan mereka berdua, apalagi ucapan Good Night di jendela masing- masing sebelum tidur. 

  Selain diajak untuk merasakan kehangatan persahataban mereka berdua, kita juga akan diajak untuk merasakan kegetiran hidup Matthew dan Silvia, serta dilema- dilema yang membuat Karin gelisah, dan membuatnya harus memilih.

Dekat namun tak bisa memiliki. Rasanya sungguh menyakitkan.

 Karena hidup adalah tentang memilih, dan semua pilihan punya konsekuensinya masing- masing.
 EITSS, novel ini nggak paketan sedih dan nyesek, banyak juga bagian- bagian yang mampu membuat saya tertawa, terutama saat bercerita tentang Karin yang marah besar kepada Matthew, karena Karin mengira bahwa Matthew telah mencuri kecebongnya, tapi ternyata..... oh ternyataa =)))))))))))
 *masih ngakak kalau ingat bagian itu*  =)))))

Tapi, tentulah tak ada yang benar- benar sempurna. Karena, menurut saya ada bagian yang terkesan dipaksakan atau boleh dibilangsinetron banget terutama saat menjelang ending.
Diluar itu semua, saya juga suka penggambaran Kezia Evi saat Karin berada di Korea..
Dan saya meminta kepada kak Kezia Evi untuk bertanggung jawab karena membuat saya ngiler pengen ke Cheonggyecheon Stream dan Nami Island :))




Nami Island













 Cheonggyecheon Stream







=))))

*bercanda kak Evi* =))

Diakhir, ada kutipan ini yang rasanya ngena banget, yaitu:

Kadang kala aku berharap bisa kembli ke masa SMA

Yep. Kutipan di atas 99% pastilah pernah terlintas pada benak masing- masing orang, ingin hilang dari rutinitas orang dewasa dan kembali pada sekumpulan PR, ulangan, namun tetap bahagia melalui canda tawa yang setiap harinya dirasakan bersama teman- teman kelas.

Overall, untuk rating: 4/5.